Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

“ODD”

Pagi itu dingin sekali, udara begitu menyeru-nyeru membawaku kedalam mimpi yang dalam. Awalnya sangat tak berdaya aku tuk membangunkan diriku untuk mandi dan bergegas ke sekolah dengan keadaanku seperti ini. Yeah, aku malu. Ini bukan kondisiku yang biasanya.

“cepat bangun, keburu siang. Kamu tau kan ? jarak sekolah tidak dekat, dan kamu tau sendiri kan ? kamu harus menunggui kendaraan umum untuk sampai ke sekolah. Bangun ! dan cepatlah mandi, kamar mandi juga untuk giliran mandi adikmu!” seru Ibuku geram melihatku  terbaring di ranjang terus.

Akupun bediri dengan susah payah mengambil handuk di kursi sebelahku. BRAKKKK!!!! Auu, sakit ! datanglah Ibuku beserta adik kecilku. “Astaghfirullah ! kamu ini bikin masalah saja ! cepat bediri ! mandi ! ini hari pertamamu sekolah, jangan sampai terlambat. Jika kau dikeluarkan dari sekolah barumu, aku tak akan menanggungnya.” Ibuku semakin gerang melihatku.

Ya Allah, cobaan apa ini ? Andai saja… “Kakak !!! cepat mandi !! gantian !” seru Adikku melihatiku yang sedang berusaha berdiri, lalu ia membantuku untuk berdiri.

“makasih Fra, “ ucapku nan senyum padanya. Namun ia hanya membalas dengan kata “iya” tanpa embel-embel senyuman, walau senyum palsupun tidak.

Afra adalah adikku satu-satunya, dulu saat keadaan masih baik aku dan Afra sangatlah akrab, kita selalu bermain bersama. Tidak untuk sekarang, atau untuk esok kedepan. Ibu dan Afra sepertinya membenciku, mungkin karena aku yang menyebabkan kebangkrutan keluargaku ini, atau mungkin karena aku kini cacat. Aku juga tidak tahu apakah cacatku ini sementara atau permanen. Sudah beberapa bulan ini aku mengerjakan seluruh kegiatan dengan kursi roda. Karena kini keluargaku pindah ke desa ini, akupun sekolahnya juga pindah. Kini aku menginjak kelas 1 SMA, sekarang aku bersekolah di SMA 4 Kasih Padang. Katanya sekolah ini termasuk favorit, tapi apalah arti favorit yang terpenting orangtuaku bissa membiayai sekolahku dan Afra.

Dulu aku berumahkan di Jakarta, sekolahku dan Afra pun juga di Jakarta. Karena Bisnis Ibuku bangkrut, Ibuku memutuskan pindah ke Kasih Padang tempat nenekku tinggal. Ingin tahu kenapa aku memakai kursi roda ? ini bukan salahku, bukan salah Ibuku, bukan salah Afra. Aku juga tak tahu ini salah siapa.

Saat sepulang dari puncak, pagi sekali Ibu, aku dan Afra pulang ke rumah, Ibuku yang menyetir mobilnya. Kabut lumayan tebal. Hari itu hari Sabtu, dimana jika aku tak sekolah tak apa, karena jika hari Sabtu kegiatan di sekolahku hanya ekskul saja, karena Afra memaksa untuk sampai di rumah sebelum pukul 06.30 WIB , Ibuku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai. Entah apa yang Ibu tabrak, atau apa yang menabrak mobilku. Semua tertutup kabut, dan setelah itu terjadi semuanya gelap. Ternyata aku mengalami kebutaan, tapi syukurlah mataku masih bisa disembuhkan, dan itu menjadi keuangan Ibuku berkurang. Kejadian itu hanya berkorbankan aku saja, Afra dan Ibuku selamat mungkin hanya luka kecil.

Where is my Dad ?

Ayahku… aku tak tahu dimana ayahku, ntah masih ada di dunia ini atau sudah di surga sana. Ibuku tak pernah cerita tentang Ayah padaku maupun pada Afra. Apa aku juga tak pernah menyanyakan soal keberadaan Ayah ? Aku selalu menanyakan itu pada Ibuku. Namun selalu Ibu berpaling ke berita lain, seolah Beliau tak mau anak-anaknya tahu soal ayah. Terakhir aku tanya tentang Ayah yaitu pada 23 April 2009, aku tanya “wajah ayah seperti aku atau afra bu ?” namun Ibu malah membentakku, memarahiku dan meninggalkanku sendiri di ruang tengah. Sejak itulah aku tak menanyakan tentang ayah, walau sebenarnya aku sangat ingin tahu.

Why don’t you ask to other people ? you grandma ? grandpa ? aunt ? uncle ?

Sudah aku coba, namun ya NIHIL. Aku tanya pada nenekku, namun nenekku tak menjawab, beliau hanya bilang “sesuk yo ngerti dewe, wis teko sabar” yang artinya “besuk juga tahu sendiri, sudah yang sabar saja”. Aku tanya pada tanteku, sama saja NIHIL. Sejak saat itu aku mencoba tak menanyakan tentang hal itu lagi.

My New School

Hari Senin ini aku seharusnya mengikuti kegiatan MOPD, namun panitia berbaik hati padaku. Mereka membolehkanku tak mengikuti MOPD, kecuali saat di kelas. Jika MOPD sedang berlangsung di kelas, aku tetap mengikuti kegiatan tersebut. Yang tidak aku ikuti antara lain adalah PBB. Aku masuk di kelas X-2 , dimana itu adalah kelas imersi atau unggulan atau billingual. Aku tak terlalu suka, karena aku fikir itu hanya akan menyulitkanku dalam menangkap pelajaran. Karena apa ? Karena setiap guru mapel dalam mengajar pasti menggunakan bahasa inggris, kecuali bagi guru yang tak dapat berbahasa inggris.

Setelah kegiatan MOPD selesai, kini dimulailah pembelajaran. Minggu pertama hanya diisi dengan perkenalan saja. Setiap guru berbeda dalam tahap perkenalan diri. Ada yang suruh maju kedepan, ada yang suruh ditulis di kertas, dan ada juga yang hanya suruh berdiri.

Syukurlah, sekarang aku bisa melakukan aktifitasku dengan biasa, tanpa kursi roda J . setelah aku melepas kursi rodaku, aku fikir Ibu dan adikku agak geram padaku karena aku cacat, namun nyatanya setelah aku lepas dari kursi roda reaksinya sama saja. APA SALAHKU ya ? benar-benar hampa, baru kali ini aku dibeginikan oleh Ibu dan Afra. Oh ayah, IF you in here with me , i’ll never sad.

Tempat terbahagiaku sekarang adalah berada di sekolah. Di rumah sama sekali aku tah senang, yang ada hanyalah tangisan, jujur aku tak kuat menahan geraman dari Ibu dan Afra. Nenek hanya berdiam diri, seolah membiarkanku di gerami oleh Ibu dan Afra. Untungnya, teman di kelasku solid-solid, yaaa walaupun tak semuanya tapi sudah bersyukurlah aku, paling tidak aku tak gila cepat J.

Bulan demi bulan berlalu, seiring berjalannya waktu aku semakin betah berada di sekolah dan semakin geram ada di rumah. Kata Om ku, sekarang aku beda tidak seperti dulu lagi. Sekarang aku lebih sering menyendiri. Kini bisnis Ibuku kembali dibangun dan Alhamdulillah lancar dan membuahkan hasil yang besar. Dengan begitu Ibu dan Afra kembali ke Jakarta. Tadinya nenek menyuruhku untuk ikut Ibu, namun aku bersikeras untuk menolaknya. Aku benci dimarahi, aku benci didiami maka dari itu lebih baik aku di sini walaupun sebenarnya keadaannya sama saja, hanya nenek dan tanteku tak terlalu menggeramiku mereka malah cuek-cuek saja aku mau apa bagaimana dimana, pokoknya bebas. Afra kembali bersekolah dimana ia sekolah dahulu. Dan Ibu mungkin kembali seperti yang dulu yang sukanya arisan, belanja dan hal lainnya yang berkaitan dengan uang. IF THEY’RE NOT CRUEL TO ME, mungkin aku akan ikut Ibu dan Afra, meninggalkan kota kecil ini dan meninggalkan teman-teman baruku.

Uki, teman di kelasku, dia akrab denganku. Nasibnya sama denganku bedanya di sering dikerasi oleh ayahnya. Uki anak pertama, ia mempunyai 2 adik satu perempuan dan satu laki-laki, Ibunya lama meninggal sejak melahirkan Uli adik terkecil Uki. Dan sejak itulah ayah Uki sering mengerasi Uli, beliau anggap Uli lah yang menyebabkan kematian istrinya yang tercinta, karena Uki sering melindungi Uli, Uki jadi sering mendapat kekerasan juga dari ayahnya.

Minggu lalu, aku dan teman X-2 lainnya ke rumah Uki. Untuk apa ????

Untuk berbela sungkawa, Yupz Uli meninggal. Jasadnya ditemukan di kamar mandi. Uli bunuh diri, terlihat ada sebuah pisau kecil tajam tertancap di pergelangan tangan kanan Uli. Kulihati Uki yang sedang menangis tak kuasa melihat Uli dikafani, Uli terbalutkan kain putih. Ayahnya terlihat diam, pucat namun santai. Entah apa yang beliau fikirkan, apa yang beliau rasakan atas bunuh dirinya Ulu anaknya sendiri yang sering beliau kerasi. Menurutku, Uli sudah bosan hidup untuk dikerasi oleh ayahnya sendiri. Aku bisa merasakan apa yang Uli rasakan, karena mungkin itu juga terjadi padaku. Aku masih bersyukur, aku hanya mendapat tekanan batin, sementara Uli tekanan batin ia dapat, tekanan fisik apa lagi. Aku tak bisa membayangkan apa yang dirasakan Ibuku jika aku melakukan seperti Uli lakukan. Aku terdiam di sudut ruang, melamun dan membayangkan tentang semua itu.ong di tempat orang duka”

“Wi ?? kamu kenapa ? diem aja dari tadi ?” sahut Risa teman sebangkuku.

“wi ? kamu melamun ya ?” ulangnya.

“Tiwiiiii !!!!” bisiknya didekat telingaku.

“eh.. ya sa ? ada apa ?” sadarku dipanggil-panggil oleh Risa.

“kamu diem aja ? bengong lagi. Nggak baik lhoh bengong di tempat orang duka” katanya sok tahu.

“hmm, enggak kok. Lagi ngikut berduka aja” responku agak terpatah-patah sambil tersenyum kanan kiri 2cm.

Setelah beberapa jam aku dan kawan-kawan di rumah Uki, akupun pulang. Jarak antara rumahku (rumah nenek) dengan rumah Uki lumayan jauh, sekitar 3km. Karena tidak ada uang untuk naik kendaraan umum, terpaksalah aku jalan kaki. Ibuku tak meninggalkan uang untukku, sementara aku tidak enak meminta kepada nenek ataupun tante atau om. Aku tak mau merepotkan mereka, cukup aku tinggal di rumah mereka. Walaupun tanteku sering menawariku uang, namun jika sedang tak perlu aku pasti menolaknya. Untuk sekolah biasanya aku diberi 10ribu, untuk angkutan 3ribu dan sisanya kadang untuk aku tabung atau jajan.

“anak X2 kan ?” sapa seorang perempuan, dan aku tahu siapa dia. Dia adalah Rossa anak XI ips3 anaknya cantik namun KATANYA liar. Namun apa urusanku.

“iya kak “ jawabku sambil senyum padanya, tidak baik jika aku menjawab dengan muka melas atau cemberut.

“mau pulang kan ? bareng aku aja yuk” tawarnya. Tanpa ambil pusing, karena kondisiku juga tak memungkinkan untuk jalan sejauh 3km kuambillah tawaran itu.

“rumahmu mana ?”

“depan gang 7 kak, kakak darimana ?”

“oh situ itu ya, aku dari rumah pacar. Oh iya, nama kamu siapa ?”

Tuh kan, tahu nggak ini jam berapa ??? sekitar pukul 19.30an , cewek main kerumah lawan jenis malem=malem gini. Kulihat pakaiannya, Ck ck ck rok nya minin. Astaghfirullah.

“ohh.. aku Tiwi Ayundya anak X2”

“iya aku tahu kelasmu, banyak temen sekelasku yang suka kamu lho Wi, kata mereka kamu cantik. Dan ternyata emang cantik J . kayaknya kamu bukan asli kota ini ya ?” tanyanya.

“aku dari Jakarta kak, pindahan hehehe” jawabku tanpa merespon pernyataan kalau teman kelasnya ada yang menyukaiku, aku tak peduli.

Seiring terlemparnya banyak pertanyaan dari kak Rossa, akhirnya sampai juga di depan gang.

“stop kak , aku turun sini aja”

“nggak sampai depan rumah ?”

“nggak usah, makasih kak tumpangannya J

Setibanya di rumah

“habis darimana kamu ?” sambut nenekku dengan mata tajam.

Tiba-tiba jantungku berdebar kencang melihat wajah nenek setajam itu. Ini sama halnya saat aku melihat tatapan mata Ibu saat sedang geram denganku. Ya Allah…

“dari rumah teman nek, adiknya temenku meninggal. Dia bunuh diri” jawabku sambil menundukkan kepala. Tiba-tiba tanteku di depanku dan mengangkat daguku dan berkata,

“kamu jangan berani-beraninya pulang lewat pukul 18.00 . kalau besok kamu ulangi lagi pintu tak akan terbuka untukmu, dan…. jika itu memang sangat perlu, kamu harus izin pada nenekmu, aku dan Om mu. Semua harus kamu mintai izin. Jika salah satu tak mengizinkanmaka kamu tidak bisa pergi. Peraturan ini berlaku pagi, siang, sore dan malam. Mengerti ?! ” jelas panjang lebar tanteku juga dengan tatapan tajam.

Kuanggukkan kepalaku, lalu Tante melepas tangannya yang mencekam daguku. Lalu ? apa yang harus aku lakukan ? apa iya aku akan ke Jakarta tinggal bersama Ibu lagi. Arggghhhhh…. setelah nenek dan tante masuk ke kamar masing-masing, akupun langsung menuju kamarku.

Kamar ????

Bolehlah aku sebut ini adalah kamar. Tempat untuk aku tidur di rumah nenek tidaklah seluas kamarku yang ada di Jakarta dulu, tidaklah seempuk dulu dan tidaklah senyaman dahulu. Di sini, ada sebuah ruangan kosong ukuran 3×4 katanya ini bekas tempat penyimpanan. Atapnya belum diberi ternit jadi masih terlihat kayu-kayunya. Penerangannya adalah bolam warna kuning. Untuk tidur, aku bukanlah beralaskan kasur namun karpet 3 lapis. Ini sangatlah jauh dengan kamarku yang dulu, namun bagaimana lagi di sini aku hanya menumpang. IF I STILL ON  JAKARTA

“ iya, hanya menumpang. Namun jika menumpang di rumah nenek sendiri apa setega ini ? aku juga tak tahu apa yang sedang aku alami sekarang ini.”

Aku menangis tersedu-sedu, kututup wajahku dengan bantal agar suara iask tangisku tak terdengar sampai luar. Sebenarnya kesalahan apa yang aku lakukan hingga seperti ini. IF I MEET MY DAD, I’LL TELL HIM betapa tak kuasanya aku di sini bersama nenek ataupun ibu.

Aku jadi terbayang Uli adiknya Uki. Sebelum ia nekat bunuh diri apa yang ia rasakan ya ? apa sepertiku. Mungkin jija aku tak sabar sudah dari kemarin aku bunuh diri. Tokk..tok..tok…

“Tiwi, ayo makan malam” terdengar ajakan Om di depan pintu kamarku.

Dengan segera kujawab “iya, sebentar” sambil mengelap air mata di wajahku dengan bantal. Akupun keluar dan menuju ruang makan. Di sana duduklah Nenek, tante, Om serta Tio anak Om Jaya.

“kak Tiw, habis nangis ya ? kok matanya bummmm ?” tanya Tio yang umurnya masih 5tahun.

“enggak kok, emang mata kak Tiwi begini” jawabku sambil mengacak-acak rambut Tio. Hal yang membuatku sakit adalah setelah aku mengacak-acak rambut Tio, reaksi tante adlah merapikannya kembali sambil berkata “ih!”. Kumakan lahap porsi makanku, aku muak dengan keadaan di meja makan ini.

Dan pada akhirnya semua selesai makan, akupun lagsung angkat bicara.

“jadi, apa salahku ?”

“mas, bawa Tio ke kamar dulu” perintah Tante Rina pada Om Jaya.

Om Jaya pun menuntun Tio ke kamar. Jika kupahami, Om Jaya itu takut sama Tante Rani.

“Ran, kamu aja yang ngomong” pinta nenek.

“ibu sajalah, kan ibu lebih tahu semuanya”  desah Tante Rani.

Semua diam, aku tak sabar apa yang akan mereka katakan. Bukan terlalu PD, namun menurutku mereka tak akan bisa menjawab apa kesalahanku karena aku memang tak bersalah. Cukup lama mereka diam, kulihat raut nenek dan Tante seperti orang kebingungan. Apa yang mereka bingungkan ? toh jika aku memang bersalah mereka tak usah repot untuk mencari jawaban. Aku mulai kesal.

“baik, tak Ibu, tak Nenek , tak Tante.. semuanya sama saja. Saat aku tanya apa salahku, kalian tak menjawab. Bingung ? kalau aku memang salah seharusnya kalian tak usah bingung untuk menjawab pertanyaanku tadi. Kalian marah padaku, geram padaku, dingin tanpa sebab ! aku juga butuh perhatian seperti Afra. Aku juga bisa depresi kalau dibeginikan.” Kataku sedikit melawan.

PAKKKKK !!! Tante Rani menamparku. “diam kamu !”

“aku minta jawaban bukan tamparan. Jika memang tamparan pantas untukku, tamparlah aku sepuas tante jika perlu usir aku dari sini !”

“Tiwi !!!!” teriak Nenek.

“apa ? nenek juga mau membantu tante untuk menamparku ?? aku butuh kasih sayang, bukan kekerasan. Apa dulu seumurku nenek juga Tante dibeginikan ? apa ini tradisi keluarga ? kalian tak bisa menjawab pertanyaanku. Dimana ayahku ? aku mau bersamanya ! aku tak mau berlama-lama disini, aku tak mau jadi bangkai disini. Maaf lancang.” Akupun langsung meninggalkan meja makan, berlari menuju kamar.

“Ya Allah, apa jalan hidupku memang Kau buat seperti ini ?”

Salah siapa dong ?

Hari ini adalah hari penerimaan raport atau hasil Tes semester akhir. Sebenarnya wali murid harus datang ke sekolah untuk mengambil raport, aku tak mau ada kontak dengan nenek atau tante jadi kuminta Om Jaya yang datang ke sekolah. Sepulang dari sekolah, raport masih dibawa Om Jaya pulang ke rumah. Sedangkan aku izin main bersama teman-temanku. Aku sendiri belum tahu bagaimana hasil tesku. Aku harap itu hasil yang aku inginkan.

Ini kali pertamanya aku bermain dengan teman-teman X2. Sebelumnya mungkin untuk kepentingan kelas atau semacam belajar kelompok, kalau untuk main seperti ini memang baru kali ini. Tapi sewaktu di Jakarta sering banget main, namun keadaan berubah L .

“kalian udah pada izin kan ? takutnya kalau kita main kelamaan pulang-pulang kena semprot”

“oh iya, ntar aku nggak bisa lama-lama mainnya, aku belum izin ayahku” kata Uki.

Setelah puas bermain-main di mall dan makan rencana aku dan lainnya akan ke salah satu tempat rekreasi untuk merayakan ulang tahun Melly salah satu teman kelas X2. Namun sayangnya Uki kali ini harus pulang.

“guys, aku pulang dulu ya. Maaf banget nggak bisa bareng-bareng, maaf banget buat Melly nggak bisa ikut bahagiain kamu” sahut Uki

“ahh, nggak apa kok. Kamu ikut makan aja aku udah seneng. Lagian kamu pulang juga nggak apa, kasian kamunya kalau pulang terlambat bisa kena marah. Aku ngerti kok Ki J “ Melly sangat tahu bagaiman kondisi Uki seandainya Uki memaksakan untuk meneruskan bermainnya hari ini.

“Uki.. aku ikut pulang deh” sambungku.

“lhoh ? kok jadi ikutan pulang ?” kata Heru

“mm, kan rumahku sama rumah Uki searah, jadi pulangnya biar bareng aja sekalian. Aku takut kalau pulang sendirian. Hehe, nggak apa kan Mel ?” kataku sambil menatap Melly.

“iya, nggak apa. Makasih tadi udah mau ngikut J “ kata Melly.

“Wi.. kamu kan bisa  pulang bareng aku” sahut Iko. Kalau di kelas, aku sering dipojokin gara-gara Iko sok perhatian denganku x.x.

“cie cie.. ehemmmmm” gumam teman-teman.

“apaan sih ?!! udah aku bareng Uki aja! Ki pulang yuk !” kutarik tangan Uki.

“eh, aku ikut pulang sekarang, biar bisa pulang sama Tiwi”  teriak Iko. Namun Heru menarik tangan Iko, Iko tak jadi pulang sekarang.😀

Perjalan dari mall ke rumah sangatlah jauh, membutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk samapai rumah. Aku dan Uki menunbggu Bus di halte dekat mall, cukup lama ku menunggu Bus datang sudah setengah jam sendiri. Aku khawatis sepulang nanti nenek atau tante mengomeliku. Huh!

“kok nggak ikut mereka main? Seru lhoh, aku aja pengen ngikut. Tapiii, tau kan gimana ayahku” kata Uki sambil mengontang-antingkan tas sekolahnya.

Batinku “Sebenarnya nasibku denganmu sama aja kaliii”. Uki tak tahu kalau kehidupanku sama saja dengan kehidupannya, penuh kekerasan.

“mmm, kalau aku pulang nanti takut nggak bisa pulang. Tau sendirikan ? aku disini baru satu tahun, belum terlalu tahu jalan di daerah sini.”

“lhoh ? kan tadi mau barengan sama Iko. Hahhahah becanda sist😛 . emangnya Ibu kamu atau saudara kamu yang ada di sini nggak pernah ngajak kamu kesini ?”

Pertanyaannya menyentuh, kenapa aku baru sadar kalau nenek ataupun Tante belum pernah mengajakku kesini. Jangankan mengajakku kesini, ada juga aku disuruh ke warung atau pasar.

“mmm, pernah kok. Sering malah, tapi aku nggak pernah merhatiin jalan. Hehe” kataku palsu dan untungnya Uki percaya, aku tak mau keluarga terpandang jelek.

Setibanya di rumah, saat kubuka pintu depan tante sudah ada di depan pintu sepertinya habis menyapu lantai karena ia sedang memegang sapu, tidak seperti biasa… biasanya yang menyapu lantai itu ya aku. Tiba-tiba BUKK..BUKK..BUKK..adawwwwwww !!! Tante Rani memukuliku dengan sapu tersebut. Kudapati Tio sedang melihatiku dipukuli oleh ibunya.

“apa sih tante ?”

“apa apa apa ???? habis darimana kamu ha ? bandel banget kamu ya ! main terus ! pikirin tu nilai kamu !” teriak tante berulang kali dan tetap saja memukuliku dengan sapu. Rasanya tak usah dipertanyakan lagi PERIH SAKIT PANAS, akupun tak kuasa menahan rasa perih, mataku keluar air mata yang cukup banyak.

“akanku laporkan nilaimu pada ibumu ! biar ibumu tahu apa yang kamu lakukan disini. Hanya main-main-main-main saja !” kata tanteku.

“Tante ! kapan sih aku main ? aku main juga baru kali ini, kalau aku keluar rumah apa tante izinin ? nenek izinin ? kalau bolehpun hanya untuk belajar kelompok, itupun Om Jaya menungguiku. Aku bukan anak kecil lagi tante. Soal nilaiku, apa tante tu nggak mikir…” belum selesai kubicara, nenek datang langsung menamparku.

“kamu kalau sama yang lebih tua jangan melawan ! apa ibumu mengajarimu seperti ini ?” sambung nenek. OH ! dapat pukulan di pantat,punggung serta tamparan di pipi.

“baik, aku memang masih muda diantara kalian, tapi tolong hargain aku sedikit. Bolehlah kalian salahkan aku atas nilaiku, tapi setidaknya kalian tahu mengapa nilaiku jelek, itu karena aku dibawah tekanan kalian. Masih ingat waktu aku mau belaja tapi nenek menyuruhku pergi ke pasar buat beli jagung untuk makan ayam ?? tante waktu nyuruh aku ke tetangga buat nyetorin uang arisan ?”

“alah ! bilang saja kamu tak mau bekerja ! dasar anak malas!” sambung Tante Rani.

“kalian tu nggak ngerti !” teriakku, saat aku akan berlari menuju kamar tiba-tiba ada yang memanggilku, dia adalah Afra. Kukira afra rindu padaku sebagai kakaknya, ternyata..

“sini kamu !” perintah Ibu yang baru saja datang. Entah Ibu kebetulan kesini atau sengaja.

“nah, ini dia ibunya. Kebetulan, tadinya aku mau telepon kamu kak, ini nih anaknu kerjaannya main ulu, sekarang lihat saja nilai raportnya. Sekarang dia juga pinter ngomong !” kata tanteku memojokkanku.

“sini kamu Tiwi !!!” pakkk ! KREKKK!! Lagi dan lagi pipiku ditampar, kali ini tambah penderitaan pada kakiku. Kakiku yang tanpa alas ini diinjak oleh ibuku. Tau nggak ? ibuku memakai sepatu Highheels, ujungnya mengenai tulang pada jempol kakiku, sempat ada bunyi krekk saat diinjak, kuharap tak retak. Akupun tertunduk, menangis tak henti-hentinya. Perih sekali, perih di fisik maupun di batin. Kali ini aku merasakan sakit yang dialami Uki.

Dengan pincang, aku berlari menuju kamar. Kali ini tak ada yang mencegahku untuk kabur dari area kekerasan tersebut. Di kamar masih saja aku menangis menahan sakitnya hari ini. Tiba-tiba Tio datang dibalik pintu kamarku, ia melihat jempol kakiku berdarah, ia pun berlari keluar dari kamarku. Huh, mungkin Tio akan laporang kepada ibunya kalau aku berdarah dan hasilnya tante Rani mungkin malah akan menertawakanku. Tapi ternyata Tio datang lagi kekamarku, ia membawa kotak P3K nya. Saat itu tangisanku menjadi-jadi, aku terharu anak berumur 5tahun pun tahu apa yang harus ia lakukan, apa yang ia rasakan. Ada sedikit tetesan air mata dari mata Tio, mungki Tio kasihan kepadaku.

“kak, maafin mama Tio ya.. sakit ya ? sini biar Tio obatin” kata Tio sabil meneteskan air mata.

Aku pun mencoba untuk tersenyum dalam tangisanku, aku tak ingin Tio melihatku menangis lagi. Tio pun menungguiku membersihkan darah erta membalut luka dengan perban. Ia duduk di sampingku sambil meliahati lukaku , tangannya memegangi jempol kakinya sendiri, mungkin dia sedang merasakan apa yang aku rasakan.

“aku keluar dulu ya kak. Cepat sembuh” katanya sambil mencium keningku. Aku jadi tambah salut dengan Tio. Semoga besarnya dia tak seperti mamanya.

Untungnya 2minggu kedepan aku libur sekolah, jadi ada waktu untuk mengeringkan lukaku ini. Aku berniat tak akan keluar rumah selama liburan ini.

Bersumbang….🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s