Author : Ilma Karoma

Kategori : Cerita Pendek

 

 

Adakah Pelangi

Ellen bukanlah anak pembangkang, ia hanya butuh kasih sayang. Ayahnya memberi kasih sayang yang penuh, namun ibunya entah. Lama Ellen tak jumpa dengannya, dulu kira-kira tiga tahun yang lalu ayah bilang ibu sedang pergi ke luar kota untuk bekerja. Ellen percaya padanya begitu saja.

Namanya Ellen Strowly, umurnya tujuh tahun dan bulan Juli esok ia akan masuk ke sekolah.

“Masih lamakah ibu di luar kota? Mengapa kau tak ajak aku untuk menemuinya?” tanya Ellen pada ayah yang sedang menyeduh kopinya di Minggu pagi.

Ayah berhenti mengaduk kopinya, ia letakkan cendoknya lalu meraih kunci mobil di samping cangkir. Ia meraih tangan Ellen, mengarahkan untuk mengikutinya. Dibawalah Ellen ke suatu tempat. Ayah menyuruhnya untuk jongkok, iapun menuruti apa yang ayah perintah. Yang Ellen raba hanyalah segunduk tanah, ia tak tahu jika itu adalah makam milik ibunya.

“Mana Ibu?” tanyanya yang tak mengerti mengapa ayah membawanya kemari.

“Ini tempat ibumu,”

Ellen rasa ayah terlalu lelah hingga ia mengada-ada. Ellen mengajaknya pulang, Ayah menuntunnya menuju mobil. Ayah tak langsung membawanya pulang, ia akan menitipkan Ellen di rumah Oma. Ayah akan pergi mengambil tiket pesawatnya, entahlah ia hendak pergi kemana.

“Ibu, tolong jaga Ellen sebentar ya.”

Oma menganggukkan keplanya lalu meraih tangan Ellen, menuntunnya ke halaman rumah lalu ia menaikkannya ke sebuah benda yang dapat berayun-ayun. Suara mobil ayah mulai terdengar namun lama-kelamaan sirna. Oma membelai rambut Ellen, lalu Oma mencium pipinya.

“Ayah hendak kemana, Oma?”

“Dia akan mewarnai duniamu,” jawab Oma.

Terkadang Ellen tak tahu apa maksud yang dibicarakan oleh orang. Ia masih anak yang berusia tujuh tahun, pembicaraan yang penuh nalar belum sanggup ia nalar.

“Dunia itu berwarnakah oma?” tanya Ellen.

“Tentu saja,”

“Tapi mengapa yang aku lihat hanya gelap saja?”

Yeah, sejak lahir yang Ellen lihat hanyalah dunia yang begitu gelap. Matanya tak berfungsi karena ia pernah dapatkan kecelakaan dan kecelakaan itu membuat ayah mengurusnya seorang diri. Ayah telah mencoba mengobatkan Ellen ke berbagai dokter namun tetap saja. Kata Oma di dunia ada pelangi yang mempunyai warna yang indah, terkadang Ellen membayangkan warna-warna pada pelangi. Ellen tak hanya berharap dapat melihat warna pelangi yang indah itu, namun juga ingin melihat wajah ayah, ibu dan oma. Selalu ia bertanya ‘seperti apa ayah? Ibu? Oma?’ namun ayah selalu menjawab ‘tak jauh beda sepertimu’. Yeah, mereka tak jauh beda sepertinya, namun mereka bisa melihat Ellen, aku tak bisa.

“Umurmu masih tujuh tahun Ellen. Kalau kamu sudah besar nanti kamu akan bisa melihat pelangi,”

“Apa Oma dulu saat masih berumur tujuh tahun juga sepertiku?” tanyanya yang tak mau membungkam mulutnya.

Ellen tak mendengar jawaban oma, mungkin ia capek untuk menjawabnya. Jika ia menjawab maka Ellen pasti akan melemparkan pertanyaan selanjutnya. Tak lama kemudia Ellen merasakan ada air yang jatuh di dahinya.

“Oma ayo masuk hujan turun!” serunya.

Oma mengusap pipinya, air matanya tak sadar telah menghujani Ellen. Ia membawa Ellen masuk ke dalam rumah. Ellen di suruh duduk di sampingnya.

“Oma sedang apa?”

“Membaca buku sayang,” jawabnya sambil membelai rambut Ellen.

“Apa aku besar nanti juga bisa membaca buku?” tanyanya.

“Tentu saja, sekarang kamu tidur saja ya. Nanti jika ayahmu sudah tiba aku akan membangunkanmu,”

 Ellen menuruti apa perintah Oma. Yeah, setiap Ellen di suruh untuk melakukan sesuatu oleh Oma maupun ayah ia akan selalu menganggukkan kepala. Ia berbaring di sebuah tempat yang sangat empuk dan hangat. Ah nyaman sekali. Oma menemaninya hingga terlelap, lalu ia meninggalkan Ellen sendiri di kamar. Ia kembali menuju ruang tengah untuk membaca buku-bukunya. Yeah, Oma bilang ia sangat senang membaca buku.

*

“Apa dia disini?” tanya Opa yang baru saja pulang dari kantornya.

Entah apa yang membuatnya bertahan bekerja, dilihat dari fisiknya ia sudah tak lagi berdaya. Namun kemauannya untuk mengabdi pada pekerjaannya membuatnya tak mau berhenti.

“Siapa?”

“Ellen, siapa lagi kalau bukan dia?”

“Benar dia ada disini. Kau tak suka dia disini?” tanya Oma mengejutkan Opa.

“Apa kau tak tahu? Aku bekerja untuknya, tentu saja aku suka. Dia cucuku, aku sangat menyayanginya. Sedang apa dia? Tidurkah?”

“Ya. Jangan bangunkan dia, akan kubangunkan ketika ayahnya datang nanti.”

“Ini hari Minggu bukan? Mengapa ayahnya pergi ke kantor?” tanya Opa.

“Kau sendiri untuk apa ke kantormu? Ini hari Minggu bukan? Ayahnya sedang mengambil tiket pesawat.”

“Tiket pesawat? Dia mau ke luar kota? Mengapa ia selalu meninggalkan Ellen sendirian. Sungguh.”

“Jangan berperasangka buruk dulu. Sebentar lagi Ellen sudah memasuki sekolah, walau dia begitu dia juga perlu sekolah..”

“Dia akan menyekolahkannya di luar kota? Untuk apa?” tanya Opa memotong pembicaraan Oma.

“Dapatkah kau tak memotong pembicaraanku? Aku belum selesai berbicara.”

Ah mereka berdua memang orang tua yang keras kepala, keduanya tak mau kalah.

“Ayahnya akan membawanya ke Rumah Sakit Besar, ia tak mungkin menyekolahkan anaknya dalam keadaan seperti itu.”

“Operasi mata?” tanya Opa.

“Kuarasa itu ude yang bagus,” lanjut Opa.

Keduanya duduk tenang, sesekali memandangi arah kamar siapa tahu Ellen sudah bangun tanpa dibangunkan. Jika ayahnya tak ada di rumah maka Ellen akan tinggal di rumah Oma. Jika ayahnya tak ada di sampingnya maka Oma lah yang akan menjaganya di rumah yang cukup besar jika hanya dihuni oleh dua orang tua itu. Tak lama kemudian Ayah datang dengan wajah ceria, wajahnya tampak bersinar.

“Bagaimana?” sambut Opa.

“Dapat, besok aku dan Ellen bisa berangkat ke Singapura. Ibu dan Ayah bisa menyusul, tapi tidak hari itu karena tiket habis. Tapi tenang aku telah pesankan tiket penerbangan pada pagi harinya. Nantinya akan aku jemput di Bandara.”

“Baguslah, usahakan yang terbaik untuk anakmu.”

“Sekarang dimana Ellen?” tanya Ayah.

“Dia sedang tidur, aku berjanji akan membangunkannya ketika kau datang. Namun lebih baik kau gendong saja ke mobil. Kasihan jika harus dibangunkan.” Kata Oma.

Ayah masuk ke kamar, lalu digendonglah Ellen dengan kedua tangannya. Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya, tepatnya pada mertua. Lalu ia dengan segera  menidurkan Ellen di Mobil sebelum ia terbangun. Sepertinya Ellen memang begitu lelap akan tidurnya.

“Mengapa ayah tak membangunkanku?” kata Ellen yang baru saja bangun, ia mengagetkan Ayah.

“Kau tidur terlalu lelap. Oh ya, besok pagi kita akan pergi ya.”

“Kemana? Apakah melihat pelangi?” tanya Ellen.

Pertanyaan Ellen tentang pelangi selalu membuat Ayah meneteskan airmatanya. Hatinya seperti tertusuk secara tiba-tiba, tak dapat membedakan antara sakit dan tidak karena rasanya terlalu sakit. Ah biarlah dia menangis sederas apapun, Ellen tetap tak bisa melihatnya.

“Pelangi? Em, tentu saja. Setelah kau tertidur beberapa lama disana kau akan membuak matamu lalu kau akan melihat warna-warni dunia.” Jawab Ayah dengan optimis.

Yeah, besok mereka akan berangkat ke Singapura untuk mengoperasi mata Ellen. Ayah sangat optimis jika Ellen akan melihat pelangi. Hatinya bercampur kebahagiaan serta rasa tegang. Ah tak sabar ia besok pagi menuju bandara lalu membawanya ke rumah sakit. Dengan segera dokter mengoperasinya.

Rencana mengoperasikan mata Ellen sudah lama direncanakan. Ia selalu mengontak pihak rumah sakit apakah sudah mendapatkan donor mata yang sesuai. Sudah lama ia menanti kabar itu, hingga akhirnya Selasa kemarin pihak Rumah sakit menelpon ayah memberitakan bahwa mata yang sesuai sudah tersedia.

“Nah, sekarang tidurlah. Pagi-pagi aku ayah akan membangunkanmu.”

Sambil menunggui Ellen terlelap Ayah mengemasi baju-baju Ellen ke dalam koper sehingga pagi nanti mereka tinggal berangkat menuju bandara. Sambil melipat baju Ellen, sesekali ia memandangi Ellen yang tertidur pulas. Ah wajahnya sangatlah mirip dengan Barly. Barly adalah ibunya Ellen. Sungguh mereka sangat mirip. Membuatnya ia rindu pada sosok Barly.

Usai melipati baju Ellen, Ayah turun ke lantai bawah. Segera ia meraih telepon, dipencetnya beberapa digit nomor. Ia menghubungi mertuanya.

“Malam ayah, ayah bisa berangkat siang. Ternyata masih ada tiket keberangkatan siang hari. Besik pagi akan kuantarkan tiket ke rumah ayah. Dan menurut prediksi operasi akan dimulai Selasa pagi dan selesai siangnya,” jelas Ayah dari telepon.

Setelah menutup telepon, ia kembali memencet digit nomor lagi. Ia hubungi atasannya bahwa Ia ambil cuti selama enam hari untuk mengobatkan anaknya. Sang atasan mengizinkan karena ia tahu bagaimana keadaan Ellen. Untunglah.

*

“Ellen tak ikut?” tanya Oma.

Yeah, mereka tiba di bandara dan Ayahpun sudah stay menjemput sang mertua. Ellen tak ikut, ia sedang di periksa oleh dokter yang akan menanganinya.

“Tidak, sedanga ada pemeriksaan.”

Dibawalah kedua orang tua itu ke apartement. Setelah menempatkan barang-barang Ayah dengan segera meluncur ke rumah sakit. Opa dan Oma sengaja tak disuruh Ayah untuk ikut ke Rumah sakit karena ayah ke rumah sakit hanya untuk menjemput Ellen lalu membawanya ke apartement.

“Ayah darimana saja?” tanya Ellen yang bangkit dari kursi.

“Baru saja menjemput Opa dan Oma. Eh ini dari siapa?”

Ellen berdiri, ia pamerkan sebuah tongkat hitam ramping. Dengan bangga ia pamerkan pada Ayahnya. Kembali, Ayah menitihkan air matanya. Ellen tak mengerti apa maksud kepemilikan tongkat itu. Ellen diberi tongkat penunjuk jalan oleh dokter yang memeriksanya tadi.

“Kau tahu itu untuk apa?” tanya Ayah.

“Tentu, agar aku bisa berjalan pada jalan yang seharusnya.”

“Sudahkah kau ucapkan terimakasih pada dokter?” tanya Ayah sambil menuntunnya keluar dari Rumah Sakit menuju parkiran.

“Sudah, Oma bilang aku harus membiasakan dengan Maaf, Permisi, Terimakasih.”

“Pintara anak Ayah,” puji Ayah sambil mengacak-acak poni Ellen.

“Anak Ibu juga,” sambung Ellen membuat Ayah terdiam.

*

Ayah, Oma dan Opa sudah berdiri di luar ruangan tempat dimana Ellen di operasi. Rasa canggung menyertai hati mereka. Selalu mereka panjatkan doa untuk keselamatan Ellen. Operasi berlangsung sangatlah lama, asisten dokter stay untuk mengelap keringat yang keluar dari kulit sang dokter. Ah sesulit apakah mengereka mengerjakan operasi mata? Aku tak bis amendeskripsikannya.

Satu…

Dua…

Tiga…

Empat…

Lima…

Enam…

Tujuh…

Delapan…

Sembilan…

Sepuluh…

Sebelas…

Berbalut balut perban telah terbuka, tinggal beberapa lapis perban lagi maka wajah Ellen akan segera terlihat, khususnya pada mata. Rasa bahagi serta tegang menyelimuti perasaan orang yang ada di sekitarnya, termasuk para dokter dan perawat.

Satu…

Dua…

Tiga…

“Bukalah matamu pelan-pelan,” perintah perawat yang ada di sampingnya.

Tiga…

Dua…

Satu…

“Ayah, kau berbohong padaku?” tanya Ellen tiba-tiba.

Semua terdiam, tak dapat berkata. Opa dan Oma bergelinang air mata. Ayah hanya membisu, dokter dan para perawatpun terdiam saling menatap.

“Bukan sekarang, Ellen. Pelanginya pasti terlihat,” jawab Ayah sambil menahan air matanya yang tumpah tak tertahan.

Ayah berlari keluar dari ruangan. Ia duduk lemas di depan pintu. Matanya kaya akan air, ia seperti gunung yang memiliki mata air yang sungguh kaya.

“Tak adakah mata yang cocok untuknya? Tuhan, jika ini belum waktunya maka aku akan menerima, kuatkanlah anakku. Bahagiakanlah dia tanpa sebuah pelangi.”

-The End-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s