Dunia Toilet

Standar

sebelumnya aku nak minta maaf🙂 jika ada typo (memang ada kok😀 ), karakter yg tak kawan sukai daaaaaaaaaan lainnya, walau ceritanya tak bermutu namun dilarang copas ya😀 hargai anak penderita diare ini (AIB)

Dunia toilet

Ilma karoma

 dunia toilet

Sungguh tak berani aku menatap kedua bola matanya yang begitu menyala, takut sesuatu akan terjadi secara tiba-tiba. Matahari tampaknya mulai muncul memamerkan semburat garis-garis cahaya, tak malu lagi ia, hingga keluar dari peraduannya. Walau matahari sudah berjalan namun tetap saja suhunya terasa dingin, aku tak tahu apakah aku yang sakit atau bumi yang sakit.

                Di tengah-tengah tempat yang teduh penuh rimbunan pohon besar maupun kecil, reruntuhan daun kering menebal di tanah, hewan liar yang kesana kemari mencari makan berkeliaran menguasai tanah ini. Aku duduk di dekat bekas perapian tadi malam saat pesta api unggun bersama para temanku saat SMA dulu. Yeah, walaupun tak lagi menyala namun tetap bisa menghangatkan tubuh ini karena masih terdapat bara-bara api yang memerah. Di sekelilingku ada Josh, Perrie, Andy dan tepat di depanku adalah Liam, mereka semua duduk di sebuah batang pohon yang tumbang.

                Liam, lelaki yang berbadan tegap dan berambut cepak itu adalah teman sewaktu SMA dulu, kini kami bertemu kembali di acara Big Camp. Acara ini diadakan dua tahun sekali dan diikuti oleh siswa angkatanku. Tak kusangka ia ikut, betapa bahagianya aku saat mengetahuinya.

Entah seberapa dalam aku mengubur rasa yang telah timbul sejak lama ini. Yeah, aku menyukainya sejak kelas dua. Dulu aku satu kelas dengannya saat kelas dua. Tak terlalu dekat aku dengannya atau bisa dibilang kita memang sama sekali tak dekat. Tak dekat karena kami memiliki strata yang berbeda, entak datang dari mana tingkatan strata-strata yang pernah terjadi itu, bukan digolongkan menurut harta namun penampilan. Dengan begitu aku bukanlah sestrata dengan Liam dan kawannya, dulu penampilanku sungguh seperti orang tolol. Kupikir sekarang ini aku masih sama seperti yang dulu.

                Ini hari ke empat camping diadakan, acara ini hanya diadakan selama lima hari secara nomaden, yeah bak manusia purba saja. Setiap harinya aku dan yang lainnya berpindah tempat menaiki gunung yang ditumbuhi beribu pohon, siang nanti aku dan yang lainnya akan meneruskan melangkahkan kaki menuju pos terakhir. Cukup berat barang yang dibawa dalam kegiatan ini, begitu juga barang yang aku bawa. Ransel yang aku bawa sungguh merusak pundakku, rasanya seperti memar-memar jika harus menggendongnya terus.

“Masih jauhkah perjalanan kita?” tanyaku karena aku mulai lelah dengan perjalanan ini.

“Lumayan, apa kau perlu bantuanku?” tawar Liam padaku.

Akupun hanya menggelengkan kepala yang artinya aku menolak bantuannya sambil melemparkan senyuman termanisku. Padahal dalam hati aku ingin sekali dia untuk membawakan tasku hingga atas sana atau bahkan menggendongku. Namun untunglah aku masih memiliki rasa malu.

“Oh baiklah jika kau menolak, aku naik duluan ya, sampai bertemu di atas!” katanya lalu meninggalkanku.

Mengapa ia tak memaksaku agar aku menerima bantuannya? Tanyaku dalam hati berkobar-kobar. Yeah, wanita. Wanita begitu aneh, dari mulut dan dari hati itu berlainan arti. Ibarat dalam matematika adalah berbanding terbalik.

“Hai Glo! Ku kira kau sudah ada dibarisan depan sana. Apa kau sengaja ada di barisan belakang hanya untuk menungguku? Hahaha,” ujar Josh yang ternyata masih ada di barisan belakang, kupikir aku yang paling belakang.

Sungguh perilaku dan ucapannya sangatlah mantap, andai saja yang mengucapkan kalimat itu adalah Liam. Sayangnya, Liam bukanlah tipe orang seperti Josh. Dia sering kali menatapku, melempar senyum padaku tanpa alasan yang pasti, kurasa ia menyukaiku. Entah benar atau tidak, wanita itu sering menduga-duga sama sepertiku juga karena aku wanita juga.

“Kau butuh bantuanku?” tanya Josh menawarkan diri.

Tanpa basa-basi kuberikan tas ranselku padanya, yeah tas yang sangat berat yang menyiksa pundakku. Sepertinya Josh begitu keberatan saat menggendong ransel milikku, ia sedikit meringis kepadaku. Ah biarlah, tadi dia sendiri yang menawarkan jasa padaku. Akupun hanya memberi segaris senyuman padanya, mungkin walau hanya segaris dia sudah bahagia.

“Kau tahu tak? Sebenarnya aku tak mau menggendong ranselmu, lebih baik  aku menggendongmu sampai atas sana,” ucap Josh.

Aku tak menanggapi ucapannya itu, kurasa apapun yang keluar dari mulut Josh adalah kata-kata yang berlebihan. Sebenarnya tak enak juga jika aku tak mendengarkannya, untuk menenangkannya aku berpura-pura saja menanggapinya, mau bagaimana lagi, aku masih punya nurani. Hahaha.

Jalan yang ku lewati tampaknya tak bagus, sepertinya hanya beberapa orang yang mendaki lewat jalan ini, jalannya masih terjal oleh bebatuan. Selain itu aku dan yang lainnya harus menyebrangi sungai yang cukup deras tanpa jembatan. Yeah, hanya aku dan Josh yang ada di barisan belakang. Tak jadi masalah jika Liam bersamaku saat ini. Aku dan Josh berpegangan tangan erat-erat, bukan maksud apa-apa hanya agar tak terbawa arus saja. Bayangkan jika aku terbawa arus, aku akan berharap Liam lah yang menyelamatkanku.

“Mengapa kau tiba-tiba tersenyum?” tanyaku pada Josh yang tiba-tiba tersenyum sendiri.

“Aku bahagia bisa berpegangan tangan denganmu,” jawabnya dengan wajah berseri-seri.

Kata-katanya yang begitu menjijikkan membuatku geli, ia begitu berlebihan dalam mengartikan sesuatu.

Ah sampailah aku di pos empat atau pos terakhir, mereka yang sudah tiba mendahuluiku sudah mendirikan tenda. Aku yang kelelahan sudah tak sanggup lagi mendirikan tenda walau sebenarnya tendaku berjenis dome. Aku duduk di bawah pohon yang memiliki daun yang lebat dan di atas lumut yang tumbuh dengan subur. Berharap ada yang mau bersedia untuk mendirikan tendaku.

“Hei Glo! Sedang apa kau disitu?” tanya Liam yang baru saja selesai mendirikan tendanya.

“Beristirahat.”

“Masih lelah?” tanyanya kembali.

Akupun berbohong agar terlihat bukan orang yang mudah lelah, kutunjukkan rasa kuatku, “Sudah hilang lelahku, ini bukan perjalanan yang berat.”

“Kalau begitu kau bisa membantuku untuk mengambil air di sungai? Kita kekurangan air,” katanya.

Saat ingin menolaknya namun dia terburu-buru lari ke dekat tendanya untuk mengambil beberapa tangki kecil dari plastik. Dia pun kembali menuju kepadaku, menyerahkan dua tangki tadi.

“Kau tak lupa jalannya ‘kan?”

“Semoga tidak,” jawabku lalu mulai meninggalkan pos.

Seenaknya saja ia menyuruhku, setelah menyuruhku ia meninggalkanku. Berjalan menuju sungai yang tadi kulewati yang berarus deras bukanlah jalan yang pendek ataupun singkat, memerlukan waktu kurang lebih sepuluh menit untuk tiba disana, itupun jika aku masih ingat dengan jalannya.

Ah kukira dia menghampiriku untuk mendirikan tenda milikku, ternyata malah menyuruhku untuk mengambil air. Di saat kondisi seperti ini aku membutuhkan Josh, ia pasti kuat membawa dua tangki air, bisa dikatakan kali ini nurani sedang tak kumiliki. Datanglah! Susullah aku Josh! Itulah yang aku batin selama aku berjalan menuju sungai. Tetapi tetap saja anak manusia itu tak kunjung membuntutiku. Hingga perjalanan pulangpun Josh tak menyusulku.

Aku berjalan begitu lambat karena kedua tanganku membawa dua tangki air, memang ukurannya tak terlalu besar tapi tetap saja berat. Pundak yang tadinya terasa amat sangat sakit kini tak tersa lagi, namun kini beralih ke kedua lengan dan telapak tanganku. Kuputuskan berhenti sejenak untuk menenangkan kedua tanganku, lagi pula kakiku sudah mulai pegal. Untunglah prajurit matahari tak banyak yang menembus hutan ini karena ditutupi oleh dedaunan yang melekat pada pepohonan.

Duduk di tengah hutan sendirian sungguh membuatku pasrah kali ini. Baru aku sadar, aku tahu mengapa Josh tak membuntutiku, karena ia tak tahu jika aku sedang diperbudak oleh Liam. Bayangkan jika Josh mengetahuinya, dia akan menawarkan jasanya lalu ia akan menyuruhku  menunggu di tendanya, ah aku mulai menduga-duga.

“Kau lama sekali mengambil air! Cepatlah  bawa kemari!” bentak Zayn padaku yang baru saja muncul di pos.

Ah dia! Namanya Zayn Malik, lelaki itu sangatlah tampan namun kejam. Kejam dalam artian galak dan berkuasa. Sungguh jika mengingat masa SMA, Zayn seperti pemilik semua organisasi yang ada di sekolah. Perilakunya membuatku jenuh walaupun ia tak pernah berinteraksi denganku. Namun kurasa dia tak sekejam yang aku pikir.

“Berterimakasihlah padaku!” seruku sambil meninggalkan dia.

Zayn hanya memandangiku, mungkin ia terheran-heran ternyata ak berani membalas bentaknnya. Ah biarlah dia memandangiku walau hingga fajar terbit kembali, aku tak akan peduli. Kulangkahkan kakiku menuju tempat dimana tadi aku duduk awal sebelum diperbudak  oleh Liam. Kuambil tasku lalu kubawa ke squarecamp untuk membangun tenda, yeah akan kulakukan sendiri namun jika ada yang mau membantu aku tak akan menolaknya. Tak susah membangun tenda milikku, hanya seperti membuka payung saja.

Sungguh malang, teman SMA yang dulu dekat denganku tak ikut ke hutan ini, itu membuatku tak berkutik disini.

“Darimana kau dapatkan air panas untuk menyeduh mie-mu itu?” tanya Perrie.

“Disana,” jawabku sambil menunjuk perapian yang atasnya terdapat cerek untuk merebus air.

Sepertinya Perrie ingin menyeduh mie-nya seperti milikku yang sekarang ini kumakan.

*

                Gelapnya hutan karena matahari telah pulang ke peraduannya membuat hari semakin gelap dan suram. Suara jangkrikpun kini mulai terdengar menemani seluruh peserta camping yang sedang duduk mengelilingi perapian yang menyala terang. Ini malam terakhir aku disini, besok pagi acaranya adalah menuruni hutan hingga pinggir hutan dan disitulah para keluarga maupun teman akan menjemput para peserta camping kecuali bagi mereka yang membawa mobil sendiri. Akupun tak tahu siapa yang akan menjemputku. Jika tak ada maka aku harus berusaha mencari teman yang dapat kutitipi untuk mengantarkanku pulang.

                Sangat membosankan jika duduk di dekat perapian sambil memandangi gerombolan anak manusia yang sedang bernyanyi, membakar jagung dan bercengkrama dengan akrab. Yeah memang dulu aku di SMA tak terlalu menonjol, tak terlalu dikenal, tak terlalu dilihat malah bisa dikatakan tak niat untuk melihatku. Haha! Mereka sama sekali tak memperhatikanku, mengajak berbicara padaku saja tidak terpikirkan oleh mereka. Dalam satu tenda setidaknya terisi oleh dua orang, sementara dalam tendaku hanya terisi olehku. Tak ada yang mau satu tenda denganku. Oh Tuhan, sebenarnya apa yang telah aku perbuat pada mereka?

                “Kau tak ikut bergabung dengan mereka?” tanya Liam yang mendekatiku.

                Yeah, aku marah dengannya namun saat ia mendekatiku mengapa rasa amarahku lenyap? Ah jangan-jangan ia mendekatiku karena hanya ingin menyuruhku untuk mengambil air lagi di sungai. Aku tak akan mau melakukan itu, lihatlah hutan ini begitu gelap, dingin, hanya ada beberapa garis cahaya bulan yang mampu menembus hutan ini. Ia duduk di sampingku dengan membawa sebuah gitar dan dua buah jagung yang telah dilumuri dengan butter serta sudah diberi tusukan.

                Bukan! Dia tak menyuruhku untuk mengambil air di sungai, dia tak maksud mengiringiku dengan gitarnya, dia juga tak bermaksud ingin berbagi jagung lalu membakarnya bersama-sama, dia hanya ingin aku untuk membakarkan jagung miliknya sementara ia akan mengiringi alunan gitar kepada segerombolan anak manusia strata atas. Sungguh kali ini aku tak kuasa! Benar-benar seperti budak.

                “Aku tak bisa!” kutolak permintaannya, tak menunggu reaksinya padaku, aku langsung meninggalkan perapian.

                Sungguh menyebalkan, untunglah aku masih ada rasa suka dengannya, jika tak lagi aku sudah menelannya dari hari kemarin. Akupun masuk ke dalam tenda, kupakai jaketku, kupakai beanie-ku, kututup telingaku dengan earphone yang tersambung dengan ponselku, lalu kutarik selimut dan kujadikan tas sebagai bantal untuk kepalaku. Berharap hari cepat pagi, dan cepat usai acara ini. Menyesal aku mengikuti acara tahun ini.

                “Selamat tidur Glo!” teriak seseorang dari luar sana.

                Kutengok dari lubang tenda, kupikir dia Josh ternyata makhluk itu Liam. Merasa bersalahkah dia karena berulangkali memperbudak diriku?

                Terlelap dalam keramaian suasana di luar tenda. Kini mataku terpejam, telingaku mulai tak lagi mendengar kicauan para anak manusia. Terlelap… terlelap… terlelap.

                “Semuanya bangun! Cepat beresi barang-barang kalian, setelah itu keluarlah dari tenda!” perintah Zayn.

                Aku begitu nyaman tidur tadi malam sehingga aku ingin tidur lagi, tapi tak bisa karena Zayn sudah mulai berkicau. Memberesi barang-barang pribadi sambil berulang kali menguap, selang waktu kurang lebih dua menit Zayn berkicau kembali.

                “Kau bertugas membersihkan bekas perapian, kau memunguti sampah, kau menyingkirkan kayu-kayu yang tak terpakai lagi.” Perintah Zayn selaku ketua panitia.

                Untunglah aku tak disuruh untuk bersih-bersih. Daripada hanya berdiam diri melihati anak-anak bekerja ada baiknya aku ke sungai untuk mencuci wajahku. Tak takut lagi karena aku sudah hafal jalan menuju sungai. Namun karena aku menggendong ranselku jadinya terasa lebih melelahkan, tapi lebih enak kali ini darpipada aku harus membawa dua tangki berisi penuh dengan air.

                Saat aku kembali ke postcamp semuanya sudah bersih, orang-orangpun sudah beranjak pergi tanpa menungguiku kembali dari sungai. Kususul segera langkah mereka, tak mau aku tersesat di hutan ini. Tak lama kemudian, lariku tak sia-sia. Aku kembali bergabung dengan barisan anak-anak yang lainnya.

                Dan akhirnya aku sampai di pinggir hutan, melihat semua sudah akan pulang akupun bingung harus pulang bagaimana, tak ada yang menjemputku. Kulihat sudut kanan lalu sudut kiri, ahhh semua kendaraan sudah penuh. Saat melihat ke arah kanan ternyata Liam sudah di jemput oleh seorang wanita, dan sepertinya aku mengenalinya. Yeah! Dia Dani kakak kelasku dulu sewaktu SMP. Kutanya pada Perrie untuk apa Dani disini, apakah Dani adalah saudara Liam atau bukan, Perrie pun menjawab dengan pasti bahwa Dani itu adalah kekasih Liam. Sungguh buatku hanya dapat menggelengkan kepala dan menenangkan hatiku.

                “Ternyata,” gumamku.

                Dari arah lain sepertinya ada yang memanggil namaku. Kutoleh ke arah sumber suara tadi, terlihat dua orang melambaikan tangannya kepadaku. Aku tak tahu pasti mereka siapa. Kulangkahkan kakiku menuju kedua orang itu, ku gendong ranselku di depan. Ah ya! Perkenalkan dia Jack dan Finn, mereka saudara kembar. Jack adalah kekasihku dan Finn adalah mantan kekasihku. Selama camping aku lupa jika aku sudah memiliki kekasih sehingga aku masih berharap pada Liam.

                Sedang seru mengobrol dengan Jack dan Finn di pinggir hutan, tiba-tiba aku mendengar suara gemuruh seperti suara orang mengetuk pintu dengan keras. Ada yang memanggilku dengan tiba-tiba.

                “Glo! Glo! Glo! Glo! Keluarlah!” teriaknya.

                Ah yeah! Baru saja aku melamun di kamar mandi sambil duduk di toilet, bukan camping. Ah ternyata aku hanya berkhayal dalam kamar mandi. Dan yang berteriak di luar itu adalah adikku, Harry. Tak ada camping, tak ada Liam, tak ada Josh, tak ada Finn Jack, hanya ada aku dan toilet. FINE.

ilmaka gif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s