Lepaskan Aku, Ayah !

Standar

terinsiprasi dari apa yang gue lihat tadi sore sepulang sekolah, yaaa walaupun nggak semuanya itu terjadi beneran. aku hanya menyaksikan sebagian kejadian, yang kemudian aku beri sentuhan agar menjadi sebuah cerita pendek. YYaaa mungkin ini kurang menyentuh, bahasanya masih belepotan, cara penulisannya amburadul, harap maklum aja🙂 baru belajar. nah cerpen ini bakal aku jadiin tugas bahasa indonesia, sebenarnya sudah ada yang aku but, yang itu tuh DENDAM RAMBUT INDAH, hahaha yang ceritanya nggak jelas   banget. Karena aku sadar itu cerita nggak jelas, makanya aku buat cerpen yang ini.

okey ! silakan dibaca🙂🙂🙂🙂🙂

 

Lepaskan aku, Ayah!

             Saat raja siang begitu menampakkan diri tepat di atas dua orang laki-laki sedang berdiri menunggu angkutan umum. Pak Sarto dan anaknya baru saja membeli DVD dan buku tulis di Deprtement store yang jaraknya lumayan dekat dengan rumahnya.

Tama berumur 15 tahun, kini ia duduk di bangku SMA. Tama adalah anak tunggal Pak Sartono dan Ibu Lili (bulan kemarin meninggal dunia). Tama berbeda dengan anak-anak lainnya, kedua matanya juling. Bukan hanya juling, penglihatan Tama juga kurang baik ia tidak bisa fokus dengan objek. Dengan begitu ayahnya harus mengawasi langkahnya. Pak Sarto yang sudah tua itu dengan sabar menyertai anaknya, ia begitu sayang kepada Tama. Setelah istrinya meninggal, Tama adalah harta yang paling berharga dalam hidupnya.

“Ayah, lepaskan ! aku bisa jalan sendiri!” gerutu Tama sambil melepas tangan ayahnya yang menggandengnya.

“Ayah tidak mau kamu kenapa-kenapa, tetap pegang tangan Ayah Ma,” kata Pak Sarto.

“Aku bisa berjalan tanpa arahan ayah ! mataku sehat, ayah !”

Pak Sarto  menggandeng tangan Tama lagi setelah Tama lepas gandengannya. Tama malu jika ia terus diarahkan jalannya oleh Pak Sarto. Tama selalu minder apabila orang-orang melihatnya digandeng oleh ayahnya. Tama merasa matanya sehat-sehat saja.

“Ayah, lepaskan !” kata Tama sedikit keras.

Tidak mau membuat anak kesayangannya marah hanya karena masalah kecil, akhirnya Pak Sarto melepaskan tangannya. Angkutan umum yang dinantipun akhirnya datang. Mereka segera masuk ke dalam angkutan umum. Tama duduk di depan ayahnya yang memangku kardus DVD   player. Saat ada penumpang baru, Pak Sarto meminta Tama pindah di sampingnya. Namun Tama menolaknya.

“Tama, duduk di samping ayah sini,” kata Pak Sarto sambil menyilahkan penumpang itu duduk di samping Tama.

“Tidak!” jawab singkat dari mulut Tama, penumpang itupun hanya tersenyum memaklumi.

“Baik sekali anak itu, hingga tega membentak ayahnya sendiri.” Bisik seorang penumpang kepada penumpang lain.

Pak Sarto yang tak tahu mengapa Tama menjadi seperti itu, dalam hatinya Pak Sarto hanya menyeru agar beliau tetap sabar. Dalam angkutan umumpun Tama sama tak mengajak ayahnya berbicara. Mereka saling diam seperti tak mengenal satu sama lain. Dalam angkutan tersebut hawa semakin panah bagai bara, Pak Sarto lalu membuka jendela lalu membuat celah kecil agar angin meniup tubuhnya yang berkeringat itu.

Hari yang tadinya begitu cerah bahkan panas, kini siang hari mendung matahari malu menampakkan diri dan bersembunyi di balik awan.

“Berhenti pak!” teriak Pak Sarto dengan gagap.

Tamapun berdiri di samping Pak Sarto yang sedang membayar. Jalan raya hari itu sangat padat, jalan penuh dengan kendaraan berlalu lalang. Tama yang daritadi tingkahnya membingungkan itu kemudian kembali digandeng Pak Sarto.

“Ayah ! lepaskan aku ! sudah aku bilangkan, aku bisa berjalan tanpa arahan ayah, aku bisa berjalan sendiri, mataku sehat!” teriak Tama yang membuat seisi angkutan umum yang tadi dinaiki menoleh ke arah luar jendela.

“Ayah akan melepaskan kamu kalau sudah sampai di tepi jalan, ini ramai Tama.” Kata Pak Sarto sambil kembali menggandeng anaknya.

“Lepas!” teriak Tama yang langsung berlari menyeberang jalan sendirian di tengah-tengah kepadatan jalan.

Pak Sarto terkejut melihat kenekatan anaknya menyeberang jalan sendirian di tengah-tengah keramaian jalan raya. Reflek beliau berlari ke arah Tama yang baru samapai di tengah jalan raya.

“Pak, kardusnya!” teriak seorang ibu-ibu di dalam angkutan umum.

Pak Sarto belum sempat mengambil kardus yang ia bawa tadi. Mendengar teriakan ibu-ibu tadi, Pak Sarto tak peduli. Yang ada dalam pikiran Pak Sarto adalah keselamatan anaknya.

“Tama !” teriak Pak Sarto sambil berlari menghindari sepeda motor serta mobil-mobil.

Seisi angkutan umum dan pengendara yang ada di jalan tersebut tersontak pandangannya ke arah Pak Sarto dan Tama. Seolah semua itu menjadi tontonan yang tragis secara gratis dan realistis.

BRAKKK!!!

Semua menoleh ke arah lelaki tua berambut putih, Pak Sarto. Tama yang tadinya acuh tak acuh dengan ayahnya, setelah ia menoleh ke arah belakang ia langsung berteriak,

“Ayah !!!”

Pak Sarto tertabrak truk yang membawa pasir dengan kecepatan sedang, namun supir dalam keadaan mabuk berat. Semua orang mulai dari kakek nenek, ibu bapak, para remaja hingga anak-anak menghampiri Pak Sarto kemudian ikut turun tangan mengamankan Pak Sarto. Tama yang berniat untuk menghampiri ayahnya yang tergeletak lemas serta berlumuran darah tiba-tiba merasa pusing sehingga ia tak bisa berjalan ke arah ayahnya tadi.

Matanya mulai pegal, pandangan Tama sedikit demi sedikit menjadi buram dan kabur. Tama langsung duduk di aspal jalan raya dengan memegang wajahnya tepat pada kedua matanya. Pak Sarto di bawa ke rumah sakit terdekat dengan bantuan mobil seorang perempuan yang juga menyaksikan bagaimana kecelakaan itu terjadi.

“Ayah !!!” Tama berteriak lagi hingga tenggorokannya seperti akan patah.

Angin menyerang merangsek menjadi bagian bala tentara Tuhan, menghabisi yang melewatinya. Saat langkah Tama diarahkan oleh seseorang, ia sama sekali tak melihat setitik cahaya. Terdengar suara Rudi, teman sekolahnya.

“Kamu yang sabar ya,”

“Bagaimana keadaan ayahku, baik bukan ? sekarang ia ada dimana ?”

“Ayahmu tadi dibawa ke rumah sakit terdekat, tapi ayahmu tak bisa diselamatkan lagi dan sekarang akan dibawa pulang ke rumahmu. Mari kuantar kau pulang.”

“a.. a.. a..” Tama terkejut setengah mati mendengar bahwa ayahnya meninggal.

“Walaupun kita tak terlalu dekat, kalau kamu butuh bantuan dan jika kamu minta aku akan datang dengan senang hati,” kata Rudi mendinginkan hati Tama.

“Kamu tahu ? Kejadian itu tidak aku inginkan dan tidak aku harapkan.. tidak ! tidak akan pernah ! tapi…” teriak Tama.

“Percuma kamu menyesalinya, itu tak akan mengembalikan ayahmu di dunia ini. Siapa sih yang tidak ingin hidup ? hanya orang yang putus asa Tam.. mungkin ini memang takdir ayahmu,” jelas Rudi.

Langit yang begitu mendung kini menangis tak tertahan, hujan pun menari-nari di atas kepedihan Tama.

Kini Tama harus menerima kepergian ayahnya, dan ia juga harus menerima kebutaan matanya. Ia sangat menyesal atas perbuatannya terhadap ayahnya sebelum kejadian naas itu terjadi. Dan kesesakan kesedihan, kesakitan, seribu derita detik-detik penghabisan orang melepaskan nyawa. Kini ia hanya bisa diam, yang sangat ia sesalkan Tama tak bisa melihat jenazah ayahnya untuk yang terakhir kalinya karena matanya sudah siap melihat kegelapan.

Dewi malampun menampakkan diri, seolah bersinar terang membayangi hati Tama yang hitam kelam menyesalkan atas kematian ayahnya. Kini ia sudah kehilangan topi dan semangatnya untuk hidup, rasa penyesalan selalu ada, hingga ia menyelimuti dirinya dengan duri-duri yang ia tanam. Kini lika-liku hidupnya penuh duri yang tajam dan jalanan yang terjal.

SELESAI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s