Dendam Rambut Indah

Standar

Dendam Rambut Indah

               

Bel berbunyi memanggil seluruh siswa untuk menyelesaikan kegiatan belajar hari ini. Setelah guru keluar dari kelas yang kemudian diikuti oleh murid. Cuaca sedikit tak bersahabat, mendung mengatapi sekolah ini dan rintikan air yang jatuh tanpa bosan.

Brilli keluar dari kelas yang diikuti oleh Bagas dan Arum. Brilli berambut ikal itu memimpin langkah. Arum yang melangkah seperti jalannya siput, sementara Bagas berjalan tegap mengikuti langkah Brilli dengan penuh senyum masam. Brilli sendiri dari tadi tak menemukan batang hidung Kin yang janjinya akan ikut kerja kelompok.

“Sedang mencari siapa ?” Bagas menepuk bahu Brilli hingga ia terkejut.

“Kau !” teriak Brilli tak suka dikejuti oleh Bagas.

“Maaf,” kata Bagas sambil mematung.

Arum tertawa lepas melihat Bagas yang mengerut wajahnya. Ia pun menarik tas Bagas hingga Bagas tertari mundur tepat di samping Arum.

“Kin kemana ? dia berhasil buat Brilli keluar tanduk di kepalanya,” tanya Arum kepada Bagas yang masih saja mematung hingga tertinggal jauh dengan Brilli yang ada di depan.

Bagas pun hanya menggelengkan kepalanya, ia diam membisu. Kemudian mereka menyusul langkah Brilli yang mungkin 10 langkah dari mereka. Brilli mempercepat langkahnya, ia masih memasang raut merahnya di hadapan Bagas.

“Cari Kin ?” pertanyaan mulai muncul dari mulut Bagas dengan nada lebih halus dari sebelumnya.

“Itu kamu tahu.” Jawab Brilli singkat dan tanpa memandangnya.

“Sudahlah, kamu mematung saja kalau dia sedang naik darah, terlalu ganas !” bisik arum tepat di telinga Bagas.

Sesampai di koridor sekolah lantai dua, Brilli pun berhasil menemukan Kin yang sedang mengunci lockernya yang bernomor 19. Brilli pun menghampirinya dengan langkah panjang, dengan sergap ia menarik tas Kin hingga Kin terkejut.

“Darimana saja kau ? kau tahu tak ? aku dan yang lain mencarimu hingga seperti gangsing yang tak ujung berhenti,” kata Brilli dengan nada tegas.

Bagas dan Arum pun hanya terdiam berdiri di belakang Brilli yang sedang menghakimi Kin. Jantung Kin masih berdegup kencang, masih terasa jelas kagetan Brilli terhadapnya.

“aa….aaa… maaf ! aku sedang sibuk, ada apa kalian mencariku ?” tanya Kin yang tak tahu apa-apa.

“Oh, kau lupa ? kemarin siapa yang mengmis di hadapku buat bergabung di kelompok 4 ? Bagas ? Arum ? atau kamu ?” sindir Brilli kepada Kin.

“Oh itu, kalian kan bisa mengerjakannya tanpa aku. Apa aku sangat dibutuhkan ? aku tahu aku memang sangat penting dalam hal ini. Namun hari ini terlalu sibuk, ada hal yang lebih penting dari itu,” jawab Kin menyombongkan dirinya sendiri.

Sejenak hening, Arum dan Bagas pun hanya terdiam seperti tiang yang tak bisa berkata. Dengan langkah percaya diri Kin meninggalkan Brilli yang tengah memandanginya dengan tatapan kesal.

“Aku pergi.” Katanya.

Dengan rasa kesal, Brill mengajak Bagas dan Arum menuju ruang serba guna di lantai tiga. Merekapun menaiki anak tangga menuju lantai tiga. Sebenarnya mereka jarang ke lantai tersebut, apalagi mereka adalah siswa baru di sekolah itu. Baru tiga bulan mereka menjadi anak SMA.

“Kalian perlu air ?” tanya Bagas.

“Air untuk apa ?” Arum tak dapat menagkap kalimat Bagas.

“Air minum lah!” jawab kesal Bagas.

Bagas kembali menuruni anak tangga menuju kantin yang terletak di lantai satu. Sebenarnya kantin di lantai dua ada, namun karena sudah tutup dengan sangat terpaksa Bagas harus menuruni tangga sebanyak dua kali.

“Bagas…” suara lirih terdengar dari telinga Bagas.

Bagas yang terkenal takut dengan hal yang berbau horor, tanpa berfikir ia kembali menaiki dua tangga kembali. Padahal hanya tinggal beberapa meter ia sampai di kantin. Dengan berlari ia berusaha cepat sampai di ruang serba guna. Dalam pikirannya masih teringat akan panggilan lirih tadi.

Arum dan Brilli tiba di ruang serba guna.

“Pak, mau di kunci ya ruangannya?” tanya Arum kepada penjaga sekolah yang sedang menutup pintu ruang serba guna.

“iya, mau dipakai ? kalau iya ini kuncinya. Setelah selesai nanti berikan kepada saya besuk pagi ya ?” jelas beliau sambil memberikan kunci tersebut kepada Arum.

Brilli dan Arum pun masuk ke dalam ruangan gelap tersebut. Arum mencari-cari saklar lampu namun ia tak dapat menemukannya. Tiba-tiba klek, lampu menyala membuat arum kaget.

“Bagas ! kamu buatku kaget saja ! bilang kalau kamu di situ. Sekarang mana air minumnya? Kantin belum tutupkan ?” tanya Arum dengan nafas yang terhela-hela.

“Huh… maaf. Kantin tutup.” Kata Bagas juga dengan nafas yang terhela-hela.

“Kamu kenapa ? lari ya dari lantai satu sampai lantai tiga ? kamu takut ?” kata Brilli meledek Bagas dengan sedikit cengiran.

Tiga jam berlalu, mereka masih sibuk mengerjakan tugas kelompoknya. Tiba-tiba listrik mati, laptop yang mereka nyalakan kini mati karena tanpa baterai. Brillipun menyalakan Hpnya untuk menerangi. Arum mengambil baterai laptop untuk dipasang, begitu juga dengan Bagas.

Walau dengan keadaan padam, mereka tetap mengerjakan tugas dengan penuh rasa tanggung jawab. Kini hanya wajah yang tersinari saja yang terlihat. Satu laptop yang di depan Arum dan Brilli, dan satu laptop lagi yang di depan Bagas.

“Ah Bagas ! kamu kan sudah ada laptop sendiri, kerjakan tugasmu dulu !” kata Brilli setelah tersadar kalau kepala Bagas ada di samping kepala Brilli.

“Apa sih ?” jawab Bagas tak mengerti.

Brilli sempat bingung, mengapa suara Bagas jauh dari telinga Brilli. Padahal ia ada di samping Brilli. Brilli menoleh ke arah arum untuk memastikan Bagas berada di antara mereka. Namun ternyata Bagas masih ada di hadapan laptopnya. Lalu tadi siapa ?

“Hmmm… tidak, tidak ada apa-apa.” Kata Brilli dengan ragu-ragu.

Bagas terlihat menggelengkan kepalanya. Brilli masih bingung apa yang baru saja ia alami. Brilli yakin Arum pasti tahu apa yang baru saja terjadi, ia pun menanyakan hal tadi kepada Arum.

“Rum ?”

“Ya Bril ?”

“Daritadi Bagas di situ ya ?”

“Iya kan, memang kenapa ?”

“Bukannya dia baru saja di tengah-tengah kita ya? Kamu tak melihatnya ?”

“Ah tidak, kan dari tadi aku di sampingmu aku sam seklai tak melihat batang hidung Bgas di tengah-tengah kita,”

“Sungguh ?”

“Ah kamu, jangan buat aku takut!” kata Arum sedikit takut.

Tiba-tiba listrik kembali menyala, hal itu sedikit membuat tenang hati Brilli dan arum yang ketakutan. Bagaspun mendekati Brilli dan Arum.

“Kali ini sungguhkan ?” tanya Brilli kepada Arum yang membuat Bagas heran.

“Sungguh Brill.” Jawab tegas Arum.

“Apanya ?” tanya Bagas tak mengerti.

“Tidak.” Jawab singkat Arum.

Tiba-tiba terdengar suara yang benar-benar jelas terdengar oleh telinga mereka. Jreng.. Jreng… Jreng.. Dang dang , suara petikan gitar dan gendangan drum berpadu membuat kebisingan.

“Suara gitar dan drum bukan ?” tanya Bagas ketakutan.

“Iya, mari kita cek!” ajak Brilli sambil menarik baju Arum.

“Ya ampun Bril, sempatnya kau mengecek hal seperti itu. Aku tak mau ! takut !” jawab Arum.

“jangan Brill, itu menyeramkan. Di sini hanya ada aku, kamu dan Arum kan ? Bapak-bapak yang tadi sudah pulang bukan ?” Bagas meyakinkan Brilli.

Dengan langkah yang mantap Brilli menuju sumber suara tadi. Ia menuju tempat musik di sudut ruangan. Di tempat tersebut memang ada seperangkat alat musik. Terlihat senar gitarnya masih bergetar, dan itu membuat bulu kuduk Brilli berdiri. Brilli melihat caaya melintas dengan cepat di sampingnya. Tak mau berlama-lama di sudut ruangan, ia pun kembali bergabung dengan Arum dan Bagas.

“Sebaiknya kita pulang saja, aku tidak tahan di tempat ini.” Kata Brilli sambil mematikan laptopnya dan memberesi buku-bukunya.

“Aku setuju!” kata Bagas yang kemudian mematikan laptopnya.

Saat laptop mati dan mereka akan berdiri meninggalkan tempat itu, tiba-tiba listrik kembali mati dan lampu pun padam. Seisi ruangan tak terlihat, matahari mulai menjauh karena sudah pukul 17.30. Masing-masing mengambil HP dari kantong dan menerangi ruangan. Mereka berjalan menuju arah pintu. Beberapa menit mereka habiskan untuk membuka pintu, entah mengapa pintu seperti terkunci.

Terlihat sorotan cahaya dari luar ruangan melalui celah pintu. Akhirnya pintu dapat dibuka, dengan sergap kami menggeser pintu dari arah kanan dan kiri. Buggg ! mereka terjatuh secara bersamaan setelah membuka pintu dan berhadapan dengan wanita tinggi melayang dan berambut panjang terjuntai sampai di kaki mereka.

Keesokan harinya, penjaga sekolah yang kemarin menyerahkan kunci pintu menemukan tiga mayat. Satu mayat laki-laki yang wajahnya tercabik-cabik dan dua mayat perempuan dengan rambut terpotong-potong hingga berserakan di ruangan. Penjaga sekolah langsung menuruni tangga ke lantai satu dan melapor kepada guru yang sudah datang.

Beberapa hari kemudian, pihak sekolah mendatangkan orang pintar ke sekolah. Menurut orang pintar tersebut dalam rauang serba guna terdapat penunggu, ia wanita berambut panjang, tinggi. Ia akan membunuh orang yang masuk dalam ruangan tersebut, yang ia incar adalah gadis yang berambut panjang dan indah untuk menyambung rambutnya sendiri yang terdahulunya ia meninggal bunuh diri karena rambutnya yang indah dan panjang dipotong oleh ayahnya sendiri untuk tumbal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s