IF

Standar

Gambar

 

          Pagi itu dingin sekali, udara begitu menyeru-nyeru. Awalnya sangat tak berdaya aku tuk membangunkan diriku untuk mandi dan bergegas ke sekolah dengan keadaanku seperti ini. Yeah, aku malu. Ini bukan kondisiku yang biasanya.

          “cepat bangun, keburu siang. Kamu tau kan ? jarak sekolah tidak dekat, dan kamu tau sendiri kan ? kamu harus menunggui kendaraan umum untuk sampai ke sekolah. Bangun ! dan cepatlah mandi, kamar mandi juga untuk giliran mandi adikmu!” seru Ibuku.

          Akupun bediri dengan susah payah mengambil handuk di kursi sebelahku. BRAKKKK!!!! Auu, sakit ! datanglah Ibuku beserta adik kecilku. “Astaghfirullah ! kamu ini bikin masalah saja ! cepat bediri ! mandi ! ini hari pertamamu sekolah, jangan sampai terlambat.” Ibuku semakin gerang melihatku.

          Ya Allah, cobaan apa ini ? Andai saja… “Kakak !!! cepat mandi !! gantian !” seru Adikku melihatiku yang sedang berusaha berdiri, lalu ia membantuku untuk berdiri.

          “makasih Fra, “ ucapku nan senyum padanya. Namun ia hanya membalas dengan kata “iya” tanpa embel-embel senyuman, walau senyum palsupun tidak.

          Afra adalah adikku satu-satunya, dulu saat keadaan masih baik aku dan Afra sangatlah akrab, kita selalu bermain bersama. Tidak untuk sekarang, atau untuk esok kedepan. Ibu dan Afra sepertinya membenciku, mungkin karena aku yang menyebabkan kebangkrutan keluargaku ini, atau mungkin karena aku kini cacat. Aku juga tidak tahu apakah cacatku ini sementara atau permanen. Sudah beberapa bulan ini aku mengerjakan seluruh kegiatan dengan kursi roda. Karena kini keluargaku pindah ke desa ini, akupun sekolahnya juga pindah. Kini aku menginjak kelas 1 SMA, sekarang aku bersekolah di SMA 4 Kasih Padang. Katanya sekolah ini termasuk favorit, tapi apalah arti favorit yang terpenting orangtuaku bissa membiayai sekolahku dan Afra.

          Dulu aku berumahkan di Jakarta, sekolahku dan Afra pun juga di Jakarta. Karena Bisnis Ibuku bangkrut, Ibuku memutuskan pindah ke Kasih Padang tempat nenekku tinggal. Ingin tahu kenapa aku memakai kursi roda ? ini bukan salahku, bukan salah Ibuku, bukan salah Afra. Aku juga tak tahu ini salah siapa.

          Saat sepulang dari puncak, pagi sekali Ibu, aku dan Afra pulang ke rumah, Ibuku yang menyetir mobilnya. Kabut lumayan tebal. Hari itu hari Sabtu, dimana jika aku tak sekolah tak apa, karena jika hari Sabtu kegiatan di sekolahku hanya ekskul saja, karena Afra memaksa untuk sampai di rumah sebelum pukul 06.30 WIB , Ibuku melajukan mobil dengan kecepatan tinggi agar cepat sampai. Entah apa yang Ibu tabrak, atau apa yang menabrak mobilku. Semua tertutup kabut, dan setelah itu terjadi semuanya gelap. Ternyata aku mengalami kebutaan, tapi syukurlah mataku masih bisa disembuhkan, dan itu menjadi keuangan Ibuku berkurang. Kejadian itu hanya berkorbankan aku saja, Afra dan Ibuku selamat mungkin hanya luka kecil.

Where is my Dad ?

          Ayahku… aku tak tahu dimana ayahku, ntah masih ada di dunia ini atau sudah di surga sana. Ibuku tak pernah cerita tentang Ayah padaku maupun pada Afra. Apa aku juga tak pernah menyanyakan soal keberadaan Ayah ? Aku selalu menanyakan itu pada Ibuku. Namun selalu Ibu berpaling ke berita lain, seolah Beliau tak mau anak-anaknya tahu soal ayah. Terakhir aku tanya tentang Ayah yaitu pada 23 April 2009, aku tanya “wajah ayah seperti aku atau afra bu ?” namun Ibu malah membentakku, memarahiku dan meninggalkanku sendiri di ruang tengah. Sejak itulah aku tak menanyakan tentang ayah, walau sebenarnya aku sangat ingin tahu.

Why don’t you ask to other people ? you grandma ? grandpa ? aunt ? uncle ?

          Sudah aku coba, namun ya NIHIL. Aku tanya pada nenekku, namun nenekku tak menjawab, beliau hanya bilang “sesuk yo ngerti dewe, wis teko sabar” yang artinya “besuk juga tahu sendiri, sudah yang sabar saja”. Aku tanya pada tanteku, sama saja NIHIL. Sejak saat itu aku mencoba tak menanyakan tentang hal itu lagi.

My New School

          Hari Senin ini aku seharusnya mengikuti kegiatan MOPD, namun panitia berbaik hati padaku. Mereka membolehkanku tak mengikuti MOPD, kecuali saat di kelas. Jika MOPD sedang berlangsung di kelas, aku tetap mengikuti kegiatan tersebut. Yang tidak aku ikuti antara lain adalah PBB. Aku masuk di kelas X-2 , dimana itu adalah kelas imersi atau unggulan atau billingual. Aku tak terlalu suka, karena aku fikir itu hanya akan menyulitkanku dalam menangkap pelajaran. Karena apa ? Karena setiap guru mapel dalam mengajar pasti menggunakan bahasa inggris, kecuali bagi guru yang tak dapat berbahasa inggris.

          Setelah kegiatan MOPD selesai, kini dimulailah pembelajaran. Minggu pertama hanya diisi dengan perkenalan saja. Setiap guru berbeda dalam tahap perkenalan diri. Ada yang suruh maju kedepan, ada yang suruh ditulis di kertas, dan ada juga yang hanya suruh berdiri.

          Syukurlah, sekarang aku bisa melakukan aktifitasku dengan biasa, tanpa kursi roda J . setelah aku melepas kursi rodaku, aku fikir Ibu dan adikku agak geram padaku karena aku cacat, namun nyatanya setelah aku lepas dari kursi roda reaksinya sama saja. APA SALAHKU ya ? benar-benar hampa, baru kali ini aku dibeginikan oleh Ibu dan Afra. Oh ayah, IF you in here with me , i’ll never sad.

          Tempat terbahagiaku sekarang adalah berada di sekolah. Di rumah sama sekali aku tah senang, yang ada hanyalah tangisan, jujur aku tak kuat menahan geraman dari Ibu dan Afra. Nenek hanya berdiam diri, seolah membiarkanku di gerami oleh Ibu dan Afra. Untungnya, teman di kelasku solid-solid, yaaa walaupun tak semuanya tapi sudah bersyukurlah aku, paling tidak aku tak gila cepat J.

          Bulan demi bulan berlalu, seiring berjalannya waktu aku semakin betah berada di sekolah dan semakin geram ada di rumah. Kata Om ku, sekarang aku beda tidak seperti dulu lagi. Sekarang aku lebih sering menyendiri. Kini bisnis Ibuku kembali dibangun dan Alhamdulillah lancar dan membuahkan hasil yang besar. Dengan begitu Ibu dan Afra kembali ke Jakarta. Tadinya nenek menyuruhku untuk ikut Ibu, namun aku bersikeras untuk menolaknya. Aku benci dimarahi, aku benci didiami maka dari itu lebih baik aku di sini walaupun sebenarnya keadaannya sama saja, hanya nenek dan tanteku tak terlalu menggeramiku mereka malah cuek-cuek saja aku mau apa bagaimana dimana, pokoknya bebas. Afra kembali bersekolah dimana ia sekolah dahulu. Dan Ibu mungkin kembali seperti yang dulu yang sukanya arisan, belanja dan hal lainnya yang berkaitan dengan uang. IF THEY’RE NOT CRUEL TO ME, mungkin aku akan ikut Ibu dan Afra, meninggalkan kota kecil ini dan meninggalkan teman-teman baruku.

          Uki, teman di kelasku, dia akrab denganku. Nasibnya sama denganku bedanya di sering dikerasi oleh ayahnya. Uki anak pertama, ia mempunyai 2 adik satu perempuan dan satu laki-laki, Ibunya lama meninggal sejak melahirkan Uli adik terkecil Uki. Dan sejak itulah ayah Uki sering mengerasi Uli, beliau anggap Uli lah yang menyebabkan kematian istrinya yang tercinta, karena Uki sering melindungi Uli, Uki jadi sering mendapat kekerasan juga dari ayahnya.

          Minggu lalu, aku dan teman X-2 lainnya ke rumah Uki. Untuk apa ????

           Untuk berbela sungkawa, Yupz Uli meninggal. Jasadnya ditemukan di kamar mandi. Uli bunuh diri, terlihat ada sebuah pisau kecil tajam tertancap di pergelangan tangan kanan Uli. Kulihati Uki yang sedang menangis tak kuasa melihat Uli dikafani, Uli terbalutkan kain putih. Ayahnya terlihat diam, pucat namun santai. Entah apa yang beliau fikirkan, apa yang beliau rasakan atas bunuh dirinya Ulu anaknya sendiri yang sering beliau kerasi. Menurutku, Uli sudah bosan hidup untuk dikerasi oleh ayahnya sendiri. Aku bisa merasakan apa yang Uli rasakan, karena mungkin itu juga terjadi padaku. Aku masih bersyukur, aku hanya mendapat tekanan batin, sementara Uli tekanan batin ia dapat, tekanan fisik apa lagi. Aku tak bisa membayangkan apa yang dirasakan Ibuku jika aku melakukan seperti Uli lakukan. Aku terdiam di sudut ruang, melamun dan membayangkan tentang semua itu.ong di tempat orang duka”

          “Wi ?? kamu kenapa ? diem aja dari tadi ?” sahut Risa teman sebangkuku.

           “wi ? kamu melamun ya ?” ulangnya.

            “Tiwiiiii !!!!” bisiknya didekat telingaku.

            “eh.. ya sa ? ada apa ?” sadarku dipanggil-panggil oleh Risa.

            “kamu diem aja ? bengong lagi. Nggak baik lhoh bengong di tempat orang duka” katanya sok tahu.

             “hmm, enggak kok. Lagi ngikut berduka aja” responku agak terpatah-patah sambil tersenyum kanan kiri 2cm.

          Setelah beberapa jam aku dan kawan-kawan di rumah Uki, akupun pulang. Jarak antara rumahku (rumah nenek) dengan rumah Uki lumayan jauh, sekitar 3km. Karena tidak ada uang untuk naik kendaraan umum, terpaksalah aku jalan kaki. Ibuku tak meninggalkan uang untukku, sementara aku tidak enak meminta kepada nenek ataupun tante atau om. Aku tak mau merepotkan mereka, cukup aku tinggal di rumah mereka. Walaupun tanteku sering menawariku uang, namun jika sedang tak perlu aku pasti menolaknya. Untuk sekolah biasanya aku diberi 10ribu, untuk angkutan 3ribu dan sisanya kadang untuk aku tabung atau jajan.

            “anak X2 kan ?” sapa seorang perempuan, dan aku tahu siapa dia. Dia adalah Rossa anak XI ips3 anaknya cantik namun KATANYA liar. Namun apa urusanku.

            “iya kak “ jawabku sambil senyum padanya, tidak baik jika aku menjawab dengan muka melas atau cemberut.

            “mau pulang kan ? bareng aku aja yuk” tawarnya. Tanpa ambil pusing, karena kondisiku juga tak memungkinkan untuk jalan sejauh 3km kuambillah tawaran itu.

            “rumahmu mana ?”

             “depan gang 7 kak, kakak darimana ?”

             “oh situ itu ya, aku dari rumah pacar. Oh iya, nama kamu siapa ?”

          Tuh kan, tahu nggak ini jam berapa ??? sekitar pukul 19.30an , cewek main kerumah lawan jenis malem=malem gini. Kulihat pakaiannya, Ck ck ck rok nya minin. Astaghfirullah.

              “ohh.. aku Tiwi Ayundya anak X2”

               “iya aku tahu kelasmu, banyak temen sekelasku yang suka kamu lho Wi, kata mereka kamu cantik. Dan ternyata emang cantik J . kayaknya kamu bukan asli kota ini ya ?” tanyanya.

              “aku dari Jakarta kak, pindahan hehehe” jawabku tanpa merespon pernyataan kalau teman kelasnya ada yang menyukaiku, aku tak peduli.

          Seiring terlemparnya banyak pertanyaan dari kak Rossa, akhirnya sampai juga di depan gang.

             “stop kak , aku turun sini aja”

              “nggak sampai depan rumah ?”

               “nggak usah, makasih kak tumpangannya J “

Setibanya di rumah

          “habis darimana kamu ?” sambut nenekku dengan mata tajam.

          Tiba-tiba jantungku berdebar kencang melihat wajah nenek setajam itu. Ini sama halnya saat aku melihat tatapan mata Ibu saat sedang geram denganku. Ya Allah…

          “dari rumah teman nek, adiknya temenku meninggal. Dia bunuh diri” jawabku sambil menundukkan kepala. Tiba-tiba tanteku di depanku dan mengangkat daguku dan berkata,

          “kamu jangan berani-beraninya pulang lewat pukul 18.00 . kalau besok kamu ulangi lagi pintu tak akan terbuka untukmu, dan…. jika itu memang sangat perlu, kamu harus izin pada nenekmu, aku dan Om mu. Semua harus kamu mintai izin. Jika salah satu tak mengizinkanmaka kamu tidak bisa pergi. Peraturan ini berlaku pagi, siang, sore dan malam. Mengerti ?! ” jelas panjang lebar tanteku juga dengan tatapan tajam.

          Kuanggukkan kepalaku, lalu Tante melepas tangannya yang mencekam daguku. Lalu ? apa yang harus aku lakukan ? apa iya aku akan ke Jakarta tinggal bersama Ibu lagi. Arggghhhhh…. setelah nenek dan tante masuk ke kamar masing-masing, akupun langsung menuju kamarku.

Kamar ????

          Bolehlah aku sebut ini adalah kamar. Tempat untuk aku tidur di rumah nenek tidaklah seluas kamarku yang ada di Jakarta dulu, tidaklah seempuk dulu dan tidaklah senyaman dahulu. Di sini, ada sebuah ruangan kosong ukuran 3×4 katanya ini bekas tempat penyimpanan. Atapnya belum diberi ternit jadi masih terlihat kayu-kayunya. Penerangannya adalah bolam warna kuning. Untuk tidur, aku bukanlah beralaskan kasur namun karpet 3 lapis. Ini sangatlah jauh dengan kamarku yang dulu, namun bagaimana lagi di sini aku hanya menumpang. IF I STILL ON  JAKARTA

“ iya, hanya menumpang. Namun jika menumpang di rumah nenek sendiri apa setega ini ? aku juga tak tahu apa yang sedang aku alami sekarang ini.”

          Aku menangis tersedu-sedu, kututup wajahku dengan bantal agar suara iask tangisku tak terdengar sampai luar. Sebenarnya kesalahan apa yang aku lakukan hingga seperti ini. IF I MEET MY DAD, I’LL TELL HIM betapa tak kuasanya aku di sini bersama nenek ataupun ibu.

          Aku jadi terbayang Uli adiknya Uki. Sebelum ia nekat bunuh diri apa yang ia rasakan ya ? apa sepertiku. Mungkin jija aku tak sabar sudah dari kemarin aku bunuh diri. Tokk..tok..tok…

          “Tiwi, ayo makan malam” terdengar ajakan Om di depan pintu kamarku.

           Dengan segera kujawab “iya, sebentar” sambil mengelap air mata di wajahku dengan bantal. Akupun keluar dan menuju ruang makan. Di sana duduklah Nenek, tante, Om serta Tio anak Om Jaya.

          “kak Tiw, habis nangis ya ? kok matanya bummmm ?” tanya Tio yang umurnya masih 5tahun.

           “enggak kok, emang mata kak Tiwi begini” jawabku sambil mengacak-acak rambut Tio. Hal yang membuatku sakit adalah setelah aku mengacak-acak rambut Tio, reaksi tante adlah merapikannya kembali sambil berkata “ih!”. Kumakan lahap porsi makanku, aku muak dengan keadaan di meja makan ini.

          Dan pada akhirnya semua selesai makan, akupun lagsung angkat bicara.

          “jadi, apa salahku ?”

          “mas, bawa Tio ke kamar dulu” perintah Tante Rina pada Om Jaya.

           Om Jaya pun menuntun Tio ke kamar. Jika kupahami, Om Jaya itu takut sama Tante Rani.

          “Ran, kamu aja yang ngomong” pinta nenek.

           “ibu sajalah, kan ibu lebih tahu semuanya”  desah Tante Rani.

           Semua diam, aku tak sabar apa yang akan mereka katakan. Bukan terlalu PD, namun menurutku mereka tak akan bisa menjawab apa kesalahanku karena aku memang tak bersalah. Cukup lama mereka diam, kulihat raut nenek dan Tante seperti orang kebingungan. Apa yang mereka bingungkan ? toh jika aku memang bersalah mereka tak usah repot untuk mencari jawaban. Aku mulai kesal.

          “baik, tak Ibu, tak Nenek , tak Tante.. semuanya sama saja. Saat aku tanya apa salahku, kalian tak menjawab. Bingung ? kalau aku memang salah seharusnya kalian tak usah bingung untuk menjawab pertanyaanku tadi. Kalian marah padaku, geram padaku, dingin tanpa sebab ! aku juga butuh perhatian seperti Afra. Aku juga bisa depresi kalau dibeginikan.” Kataku sedikit melawan.

           PAKKKKK !!! Tante Rani menamparku. “diam kamu !”

          “aku minta jawaban bukan tamparan. Jika memang tamparan pantas untukku, tamparlah aku sepuas tante jika perlu usir aku dari sini !”

          “Tiwi !!!!” teriak Nenek.

          “apa ? nenek juga mau membantu tante untuk menamparku ?? aku butuh kasih sayang, bukan kekerasan. Apa dulu seumurku nenek juga Tante dibeginikan ? apa ini tradisi keluarga ? kalian tak bisa menjawab pertanyaanku. Dimana ayahku ? aku mau bersamanya ! aku tak mau berlama-lama disini, aku tak mau jadi bangkai disini. Maaf lancang.” Akupun langsung meninggalkan meja makan, berlari menuju kamar.

          “Ya Allah, apa jalan hidupku memang Kau buat seperti ini ?”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s